Home »
» Ringkasan Materi Perkuliahan Pertemuan Kelima
Ringkasan Materi Perkuliahan Pertemuan Kelima
Posted by Berbagi Ilmu
Posted on 2:32 AM
with 2 comments
KONSEP DAN IMPLEMENTASI AKAD MUAMALAH PADA ASURANSI SYARIAH
Akad
Pengertian
‘Aqd atau akad= perikatan,perjanjian, kesepakatan
‘Aqd adalah pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikatan
Klasifikasi
> Tabaduli (mu’awadah/tijari) -> pertukaran
> Takafuli (tabarru’i)-> tolong menolong
Rukun Akad
> Sighat (pernyataan akad)
> ‘Aqidaani (pihak yang berakad)
> Ma’qud ‘alaih (obyek akad)
> Maudhu’ al-’aqd (tujuan akad) -> Mustafa Zarqa’
Akad asuransi
> Dalam Asuransi Konvensional -> akad tabaduli
> Dan dalam Asuransi Syariah -> akad takafuli
Fatwa DSN tentang Asuransi Syariah
> Fatwa No. 21 Pedoman Umum Asuransi Syariah
> Fatwa No. 39 Asuransi Haji
> Fatwa No. 51 Akad Mudharabah Musytarakah pada Asuransi Syariah
> Fatwa No. 52 Akad Wakalah bil Ujrah pada Asuransi Syariah dan Reasuransi Syariah
> Fatwa No. 53 Akad Tabarru’ pada Asuransi Syariah
Akad-akad dalam Asuransi Syariah
Akad Tabarru’ -> hibah (Fatwa No. 21, 39 & 53) Berlaku untuk asuransi jiwa, asuransi kerugian dan reasuransi Tijarah
Fatwa DSN No. 21 tentang Pedoman Asuransi Syariah,
> Kedudukan para pihak dalamakad tabarru’: Peserta/pemegang polis -> memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta yang terkena musibah Perusahaan -> pengelola dana hibah -> berhak atas fee
> Akad tabarru’ tidak boleh diubah menjadi akad tijarah
Fatwa No.53/DSN-MUI/III/2006 tentang Akad Tabarru’ pada Asuransi Syariah
Hasil investasi dari dana tabarru’ menjadi hak kolektif peserta dan dibukukan dalam akun tabarru’ secara terpisah dari akun lain
Jika terjadi surplus underwriting
> Diakui seluruhnya sebagai dana cadangan
> Sebagian untuk cadangan dan sisanya dibagikan ke peserta
> Sebagian untuk cadangan dan sisanya dibagihasilkan antara peserta dan perusahaan
Jika terjadi defisit underwriting:
> Pengembalian talangan disisihkan dari dana tabarru’ periode berikutnya
> Ditalangi dengan akad qardh (pinjaman)
Asuransi Haji -> tabarru’ (Fatwa No. 39)
> Pemegang polis induk -> Menteri Agama
> Jamaah haji -> membayar polis (bagian BPIH)
> Premi asuransi haji dipisah dari premi lainnya
> Perusahaan berhak atas fee pengeloaan
> Surplus operasional -> hak jamaah yang diserahkan pengeloaan kepada Menteri Agama
Akad Mudharabah (Fatwa No. 21)
Implementasi Mudharabah pada Asuransi Jiwa (Life Insurance)
> Bagi hasil dalam deposito dan sertifikat deposito bank-bank syariah
> Bagi hasil dalam direct investment
> Bagi hasil dalam penyertaan saham, obligasi, reksadana, leasing dan investasi syariah lainnya
> Bagi hasil antara peserta dan perusahaan asuransi atas hasil investasi (produk yang mengandung saving)
> Bagi hasil surplus underwriting (produk non saving)
> Bagi hasil dalam penentuan rate premi pada produk saving dan non saving


Adiscstinam_da_Omaha Julie Black https://wakelet.com/wake/AxYxFGZM6UzXbau4foX9g
ReplyDeletepierenmapa
OstomitKraetsu Diana Brown Download Free
ReplyDeleteget
cobbblacdanre