atmosfer: @bout SEBI : Kampus Kecil Penuh Warna
Masuk
Home » » @bout SEBI : Kampus Kecil Penuh Warna

@bout SEBI : Kampus Kecil Penuh Warna


Haiii….. Perkenalkan, Saya adalah mahasiswi dari STEI SEBI. Sekarang saya sudah semester 6 (wah, tak disangka sudah mau tingkat akhir. Sebentar lagi skripsi, terus sidang dan diwisuda) hehehe…

Kalau boleh flashback sedikit nih ke beberapa tahun silam (boleh dong cerita sedikit) saat zaman-zamannya masih pakai seragam putih abu-abu alias masa SMA. Dahulu saya termasuk orang yang rajin dan pintar loh. Bukannya sombong, tetapi siapa sih guru disekolah yang tidak kenal saya,hehe.. karena Alhamdulillah dari kelas satu hingga kelas tiga saya berhasil menjadi bintang kelas. Bisa dibilang saya adalah anak kesayangan para guru disana, terutama guru-guru Matematika dan Exact (wuiihh). Tidak jarang saya mendapat hadiah dari mereka jika saya mendapat nilai terbaik. Entah bentuknya coklat, kamus, note, buku, novel dsb, saya sering mendapatkannya.

Saat kelas tiga menjelang kelulusan, saya mendapat tawaran beasiswa Full 100% hingga S2 disalah satu Universitas swasta  jurusan Teknik Sipil. Tentu, itu membuat para guru disana bertambah bangga karena memiliki murid seperti saya. Program itu adalah progam Akselarasi (percepatan) dengan S1 hanya 3 tahun dan S2 hanya 1 tahun. Jadi, gelar S2 akan saya dapatkan hanya dalam kurun waktu 4 tahun. Hmm, Siapa sih yang tidak mau kuliah dengan gratis? Terlebih hingga gelar S2! Wah, pokoknya itu adalah ‘kesempatan emas’ deh. Tetapi, entah! Ada dorongan kuat untuk tidak menerimanya saat itu. Persyaratan, program studi dan faktor-faktor lainnya membuat saya berpikir untuk mengambil keputusan tidak menerima ‘Tawaran Emas’ itu. Fiiuuhh….

Akibatnya, saya vakum selama setahun. Saya tidak bisa melanjutkan pendidikan saya karena faktor ekonomi keluarga. Menyesal? Tentu saya sangat menyesal saat itu. Saya telah menyia-nyiakan ‘Kesempatan Emas’ untuk bisa duduk dibangku kuliah dan harus bekerja untuk mengisi waktu luang saya.

Setahun berlalu, keinginan saya untuk bisa bersekolah masih tinggi. Saya pun mencari-cari jalur beasiswa agar bisa tetap lanjut kuliah. Bagaimana kalau kuliah sambil kerja? Terlintas dibenak saya saat itu. Tetapi jujur, saya katakan! saya adalah orang yang tidak bisa membagi-bagi waktu untuk dua atau lebih dari satu kegiatan. Saya adalah orang yang hanya bisa fokus di satu kegiatan. Ya kalau kuliah, kuliah saja. Atau kerja, ya kerja saja! So, akhirnya karena keinginan saya untuk bisa berkuliah teramat besar, saya pun mengikuti beberapa tes jalur beasiswa. Akan tetapi sayang, saya gagal disemua tes-tes yang saya ikuti. Saya putus asa dan menyerah. Perasaan menyesal itu pun kembali datang. Kalau seandainya dahulu saya mengambil kesempatan itu, mungkin saya sudah menjadi mahasiswa seperti teman-teman saya yang lain, bisa berkuliah dan belajar lagi, dikenal sebagai seorang mahasiswa. Aaahhh………. Saya down!

Sekali lagi, saya ditawarkan oleh kakak saya untuk mengikuti tes beasiswa lagi. Sebenarnya saya sudah sangat lelah mengikuti tes ini dan tes itu yang hanya akan membuat saya lebih frustasi lagi lantaran saya akan gagal dikemudian hari. Tetapi, saya putuskan, “Ini terakhir kalinya saya ikut tes beasiswa. Kalau ini gagal saya tidak mau ikut tes-tes yang lain lagi”. Saya sudah sangat lelah saat itu.

Tiga tes saya jalani, yakni: Tes Potensi Akademik, Tes Tulis dan Tes Wawancara. Saya pasrah dan bertawakal pada Allah SWT untuk hasil dan pengumumannya. Syukur Alhamdulillah, Allah masih membuka jalan bagi saya, untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ya, saya lulus. Saya diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa full 100% SDM EKSPAD di STEI SEBI.

SEBI! Sebenarnya aneh saat pertama kali saya mendengarnya. Tak pernah sebelumnya saya mendengar nama itu. Kampus apa? Letaknya dimana? Bentuknya seperti apa pun saya tidak tahu. Tetapi, pikiran itu saya buang jauh-jauh. Yang terpenting adalah saya bisa berkuliah, bisa belajar dan menuntut ilmu disana.

Saya berkuliah ditempat yang jauh-jauh lebih baik –menurut saya-. SEBI! Mungkin orang-orang akan bertanya, kampus apa itu? Dimana letaknya? Siapa ketuanya? dsb. Ya, karena memang belum banyak yang tahu tentang kampus hijau ini. Kampusnya memang kecil dan berada ditengah perkampungan, gedungnya pun tidak menjulang tinggi bila dibanding kampus-kampus lain, mahasiswa-mahasiswinya pun sederhana tidak seperti mahasiswa-mahasiswi kampus lain. Tetapi, disini saya menemukan banyak warna, yang belum tentu akan saya temukan dikampus-kampus lain. Mungkin dahulu, saya pernah menyesal karena tidak mengambil kesempatan beasiswa hingga S2. Tetapi kini dari hati yang paling dalam saya katakan, “Saya akan lebih menyesal jika dahulu saya mengambil kesempatan itu”. Kenapa? Seandainya dahulu saya menerima tawaran beasiswa itu, tentu saya tidak akan pernah berkuliah di SEBI seperti saat ini.

Alasannya, Disini saya belajar Tarbiyah (ya, walaupun dahulu saya berasal dari sekolah agama tetapi Tarbiyah tidak kental dan mendalam disana). Saya akui, jika seandainya saya dahulu menerima tawaran beasiswa itu, mungkin saya berkuliah masih menggunakan celana dan bukan rok, berjilbab tidak didouble dan tidak panjang seperti diSEBI. Disini, saya belajar arti ukhuwah. Saya mengenal orang-orang luar biasa disini, saya mengenal orang-orang yang begitu peduli dengan saudara-saudara disekitarnya, orang-orang yang tidak bisa diam jika mengetahui saudaranya sedang dalam keadaan terpuruk dan kesulitan. Dan belum tentu akan saya temukan orang-orang itu dikampus lain. Disini, saya semangat menghafal Al-Qur’an (karena memang wajib bagi mahasiswa penerima beasiswa seperti saya) tetapi saya akui, itu memotivasi saya untuk terus menghafal Al-Qur’an. Meski awalnya dengan keterpaksaan tetapi lama kelamaan membuat saya terbiasa menjalankannya. Disini, saya belajar menjaga hijab, menjaga agar interaksi dengan lawan jenis tak belebihan, karena memang begitulah ajaran dari-Nya.

Dan masih banyak hal-hal positif lain yang saya yakin belum tentu akan saya temukan dikampus-kampus manapun. Yang saya yakin belum tentu akan saya dapatkan jika saya berkuliah ditempat lain. Sekarang saya mengerti, mengapa dahulu Allah meyakinkan saya untuk tidak menerima tawaran beasiswa itu. Ya, karena Allah sudah merencanakan sesuatu yang jauh lebih baik untuk hidup saya. Saya sangat bersyukur untuk hidup saya saat ini. Karena memang, semua pasti ada hikmah-Nya.. =)

0 comments:

Post a Comment

Website counter

Pageviews last month

 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. atmosfer - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by MASTEMPLATE
Proudly powered by Blogger