Haiii….. Perkenalkan, Saya adalah mahasiswi dari STEI SEBI. Sekarang saya sudah semester 6 (wah, tak disangka sudah mau tingkat akhir. Sebentar lagi skripsi, terus sidang dan diwisuda) hehehe…
Kalau boleh flashback sedikit nih ke beberapa tahun silam (boleh dong cerita
sedikit) saat zaman-zamannya masih pakai seragam putih abu-abu alias masa SMA. Dahulu saya termasuk
orang yang rajin dan pintar loh. Bukannya sombong, tetapi siapa sih guru
disekolah yang tidak kenal saya,hehe.. karena Alhamdulillah dari kelas satu
hingga kelas tiga saya berhasil menjadi bintang kelas. Bisa dibilang saya
adalah anak kesayangan para guru disana, terutama guru-guru Matematika dan
Exact (wuiihh). Tidak jarang saya mendapat hadiah dari mereka jika saya
mendapat nilai terbaik. Entah bentuknya coklat, kamus, note, buku, novel dsb,
saya sering mendapatkannya.
Saat kelas tiga menjelang
kelulusan, saya mendapat tawaran beasiswa Full
100% hingga S2 disalah satu Universitas swasta
jurusan Teknik Sipil. Tentu, itu membuat para guru disana bertambah
bangga karena memiliki murid seperti saya. Program itu adalah progam Akselarasi (percepatan) dengan S1 hanya 3
tahun dan S2 hanya 1 tahun. Jadi, gelar S2 akan saya dapatkan hanya dalam kurun
waktu 4 tahun. Hmm, Siapa sih yang tidak mau kuliah dengan gratis? Terlebih hingga
gelar S2! Wah, pokoknya itu adalah ‘kesempatan emas’ deh. Tetapi, entah! Ada
dorongan kuat untuk tidak menerimanya saat itu. Persyaratan, program studi dan
faktor-faktor lainnya membuat saya berpikir untuk mengambil keputusan tidak
menerima ‘Tawaran Emas’ itu. Fiiuuhh….
Akibatnya, saya vakum selama
setahun. Saya tidak bisa melanjutkan pendidikan saya karena faktor ekonomi
keluarga. Menyesal? Tentu saya sangat menyesal saat itu. Saya telah
menyia-nyiakan ‘Kesempatan Emas’ untuk bisa duduk dibangku kuliah dan harus
bekerja untuk mengisi waktu luang saya.
Setahun berlalu, keinginan saya
untuk bisa bersekolah masih tinggi. Saya pun mencari-cari jalur beasiswa agar
bisa tetap lanjut kuliah. Bagaimana kalau kuliah sambil kerja? Terlintas
dibenak saya saat itu. Tetapi jujur, saya katakan! saya adalah orang yang tidak
bisa membagi-bagi waktu untuk dua atau lebih dari satu kegiatan. Saya adalah
orang yang hanya bisa fokus di satu kegiatan. Ya kalau kuliah, kuliah saja.
Atau kerja, ya kerja saja! So, akhirnya karena keinginan saya untuk bisa
berkuliah teramat besar, saya pun mengikuti beberapa tes jalur beasiswa. Akan
tetapi sayang, saya gagal disemua tes-tes yang saya ikuti. Saya putus asa dan
menyerah. Perasaan menyesal itu pun kembali datang. Kalau seandainya dahulu
saya mengambil kesempatan itu, mungkin saya sudah menjadi mahasiswa seperti
teman-teman saya yang lain, bisa berkuliah dan belajar lagi, dikenal sebagai seorang
mahasiswa. Aaahhh………. Saya down!
Sekali lagi, saya ditawarkan oleh
kakak saya untuk mengikuti tes beasiswa lagi. Sebenarnya saya sudah sangat
lelah mengikuti tes ini dan tes itu yang hanya akan membuat saya lebih frustasi
lagi lantaran saya akan gagal dikemudian hari. Tetapi, saya putuskan, “Ini
terakhir kalinya saya ikut tes beasiswa. Kalau ini gagal saya tidak mau ikut
tes-tes yang lain lagi”. Saya sudah sangat lelah saat itu.
Tiga tes saya jalani, yakni: Tes Potensi
Akademik, Tes Tulis dan Tes Wawancara. Saya pasrah dan bertawakal pada Allah
SWT untuk hasil dan pengumumannya. Syukur Alhamdulillah, Allah masih membuka
jalan bagi saya, untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi
lagi. Ya, saya lulus. Saya diterima sebagai mahasiswa penerima beasiswa full 100% SDM EKSPAD di STEI SEBI.
SEBI! Sebenarnya aneh saat
pertama kali saya mendengarnya. Tak pernah sebelumnya saya mendengar nama itu.
Kampus apa? Letaknya dimana? Bentuknya seperti apa pun saya tidak tahu. Tetapi,
pikiran itu saya buang jauh-jauh. Yang terpenting adalah saya bisa berkuliah, bisa
belajar dan menuntut ilmu disana.
Saya berkuliah ditempat yang
jauh-jauh lebih baik –menurut saya-. SEBI! Mungkin orang-orang akan bertanya,
kampus apa itu? Dimana letaknya? Siapa ketuanya? dsb. Ya, karena memang belum
banyak yang tahu tentang kampus hijau ini. Kampusnya memang kecil dan berada
ditengah perkampungan, gedungnya pun tidak menjulang tinggi bila dibanding kampus-kampus
lain, mahasiswa-mahasiswinya pun sederhana tidak seperti mahasiswa-mahasiswi
kampus lain. Tetapi, disini saya
menemukan banyak warna, yang belum
tentu akan saya temukan dikampus-kampus lain. Mungkin dahulu, saya pernah
menyesal karena tidak mengambil kesempatan beasiswa hingga S2. Tetapi kini dari
hati yang paling dalam saya katakan, “Saya akan lebih menyesal jika dahulu saya
mengambil kesempatan itu”. Kenapa? Seandainya dahulu saya menerima tawaran
beasiswa itu, tentu saya tidak akan pernah berkuliah di SEBI seperti saat ini.
Alasannya, Disini saya belajar Tarbiyah (ya, walaupun dahulu saya berasal dari
sekolah agama tetapi Tarbiyah tidak kental dan mendalam disana). Saya akui,
jika seandainya saya dahulu menerima tawaran beasiswa itu, mungkin saya berkuliah
masih menggunakan celana dan bukan rok, berjilbab tidak didouble dan tidak
panjang seperti diSEBI. Disini, saya
belajar arti ukhuwah. Saya mengenal orang-orang luar biasa disini, saya
mengenal orang-orang yang begitu peduli dengan saudara-saudara disekitarnya,
orang-orang yang tidak bisa diam jika mengetahui saudaranya sedang dalam
keadaan terpuruk dan kesulitan. Dan belum tentu akan saya temukan orang-orang
itu dikampus lain. Disini, saya semangat
menghafal Al-Qur’an (karena memang wajib bagi mahasiswa penerima beasiswa
seperti saya) tetapi saya akui, itu memotivasi saya untuk terus menghafal Al-Qur’an.
Meski awalnya dengan keterpaksaan tetapi lama kelamaan membuat saya terbiasa
menjalankannya. Disini, saya belajar
menjaga hijab, menjaga agar interaksi dengan lawan jenis tak belebihan,
karena memang begitulah ajaran dari-Nya.
Dan masih banyak hal-hal positif lain
yang saya yakin belum tentu akan saya temukan dikampus-kampus manapun. Yang
saya yakin belum tentu akan saya dapatkan jika saya berkuliah ditempat lain.
Sekarang saya mengerti, mengapa dahulu Allah meyakinkan saya untuk tidak
menerima tawaran beasiswa itu. Ya, karena Allah sudah merencanakan sesuatu yang
jauh lebih baik untuk hidup saya. Saya sangat bersyukur untuk hidup saya saat
ini. Karena memang, semua pasti ada hikmah-Nya.. =)


0 comments:
Post a Comment